Al-kesah: kakak iparku ... !

Thursday, December 21, 2006

- adegan persetubuhan. Sungguh nikmat rasanya saat itu dimana mataku tertuju pada batang kemaluan Yusuf Chong yang sedang menusuk-nusuk lubang memek kak Rina, sementara tanganku semakin kuat maju mundur pada kemaluanku.Erangan Kak Rina semakin terdengar kuat, goyangan pinggulnya semakin cepat hingga kemaluan Yusuf Chong seakan dipelintirnya.
Aku Bersama Abang iparku
( siti nur haliza 9? )

Waktu usiaku masih belasan tahun, dan saat itu aku masih duduk disebuah sekolah menengah atas, aku sering berpikir dan juga ingin tahu bagaimana tentang sex, hubungan antara seorang wanita dan laki-laki bisa terjadi. Saat itu Aku benar-benar awam sekali tentang urusan yang satu itu.

Akupun suka berpikir, alangkah bahagianya kalau Aku bisa merasakan dan tahu tentang apa yang menjadi beban pikiranku itu. Tapi lantas Aku suka merenung kembali, siapakah nantinya yang akan menjadi pasangan hidupku……….padahal kalau dilihat dari bentuk tubuhku, Aku rasa bukannya sombong, Aku mempunyai badan yang tegap dan sebenarnya tak sulit untukku untuk mendapatkan seorang gadis yang aku suka. Namun hingga kini itu semua hanya mampu bermain dibenakku, dan Aku sangat takut dan tak mempunyai keberanian untuk mendekati gadis-gadis itu.

Apakah Aku lelaki jantan dan seorang lelaki sejati?, hal ini sering menjadi pertanyaanku namun tak mampu kujawab. Dan Akupun merasa kalau Aku cukup tertutup dalam masalah ini.
Akupun sering memperhatikan teman-temanku yang tubuhnya sedang mekar-mekarnya. Mer eka menampakan sebagian tubuhnya yang membuat Aku tertarik tanpa mampu Aku berbuat jauh. Terlebih disaat mataku tertumpu pada bagian dada mereka dan sesekali Aku suka mendapatkan pemandangan dari mereka yang menampakan lekukan diantara kedua payudaranya disaat tanpa sadar teman-temanku itu terbuka kancing seragam bagian atasnya, ditambah dengan gerakan pinggul mereka yang berlenggang lenggok disaat mereka berjalan didepanku.

Kadang-kadang Akupun suka tertarik pada guru wanitaku yang sedang menulis di papan tulis sambil membelakangiku. Adakalanya kurasakan ada sesuatu perasaan yang aneh mengalir pada batang kemaluanku.
Perasaan dan beban pikiran itu tak hanya berlaku di sekolah, malah hal itu sering terbawa kerumah.
Apalagi dirumahku, Aku sering tertarik dengan suasana kehidupan kakakku bersama suaminya yang baru 2 minggu lalu menikah.
Rina, kakakku yang berumur 25 tahun dan termasuk wanita yang sangat cantik dan menjadi bunga desa di daerahku baru saja membangun mahligai rumah tangga dengan Yusuf Chong, seorang mualaf keturunan China.
Yusuf Chong adalah salah seorang manager eksekutif ditempat kakakku bekerja. Yusuf Chong sendiri saat itu baru berumur 35 tahun. Yusuf Chong memeluk Islam dua minggu sebelum kawin dengan kakakku. Aku tak tahu hubungan kakakku dengan Yusuf Chong yang sekarang telah menjadi abang iparku itu di tempat kerja. Aku hanya mengenali Yusuf Chong pada saat mereka berdua beberapa bulan sebelum menikah.

Sesuatu kebiasaanku kalau aku suka tidur setelah lewat tengah malam, ada kalanya Aku tidur setelah jam menunjukan pukul 1 atau 2 dinihari.
Dan pada suatu malam disaat yang lain telah tertidur dan telah pula bermimpi, kudengar ada suara tertawa yang kudengar agak samar-samar.

Pada mulanya Aku tak menghiraukan pendengaranku itu, sebab saat itu pikiranku sedang tertumpu pada pelajaran yang tadi Aku dapatkan di sekolah.
Namun semakin lama suara tawa itu semakin terdengar jelas di telingaku. Dan saat kuperhatikan, ternyata arah datangnya suara itu dari kamar kakakku yang berada tak jauh dari kamarku itu.
O…ya!, Aku lupa. Kalau Aku saat itu ikut menumpang di rumah kakakku yang mereka beli sebelum menikah dan kebetulan rumahnya lebih dekat kesekolahku daripada rumah orang tuaku. Maka dirumah yang cukup megah itu kami hanya bertiga.
Antara rasa ingin tahu, takut, dan malu seolah bercampur aduk dalam benakku, namun karena keingintahuanku lebih besar maka rasa malu dan takut itu mulai kukesampingkan.
Dengan berjingkat-jingkat Aku mulai melangkah keluar kamarku mendekati pintu kamar kakakku.

Kebetulan saat itu diruang tamu yang berdampingan dengan kamar kakakku keadaannya telah agak gelap jadi dapat kupastikan kalau Aku tak akan kelihatan oleh mereka.
Setelah Aku dekat ke pintu kamar itu, kulihat kalau pintu kamar Kakakku itu sedikit terbuka. Pantas saja kalau suara mereka Aku dengar tadi. Hal itu Aku nggak tahu pasti, apa mereka lupa menutup atau karena sebab yang lain. Saat itu Aku benar-benar tak peduli. Tapi yang jelas saat itu rasa kepenasaranku semakin besar.

Walau dengan rasa agak takut, juga kakiku terasa mulai gemetaran. Namun Aku dengan mengendap dan berjungkit pelan-pelan mulai mengarahkan pandanganku kedalam kamar itu.
Kamar Kakakku disebelah dalam sana kebetulan agak terang hingga Aku leluasa melihat mereka berdua disana.
Kulihat Kakakku sedang mengobrol dan sesekali bercanda sambil saling berpelukan diatas ranjang.
Kulihat pula Yusuf Chong sedang mencium leher dan ujung telinga Kakakku dan Aku lihat Kak Rina mengelinjang kegelian. Setelah itu kulihat mereka berciuman dengan begitu erat hingga kedua bibir mereka seakan bersatu.
Lama kedua bibir mereka berpagutan, dan lidah mereka berdua saling memilin dan menjilat-jilat rongga mulut mereka berdua. Begitu pula tangan Yusuf Chong sedang mengusap-usap gundukan kenyal yang ada di dada Kak Rina, sebaliknya tangan Kak Rina sedang mengelus-elus dada Yusuf Chong yang putih dan ditumbuhi sedikit bulu.
Saat itu Kak Rina hanya memakai BH dan celana dalam yang sangat kecil pada lipatannya hingga belahan kemaluan Kak rina begitu jelas terlihat olehku.

Aku sungguh kagum melihat bentuk tubuh Kakakku, dimana kecantikannya tak kalah oleh cantiknya seorang artis. Apalagi Kak Rina memiliki tinggi sekitar 170 Cm dengan kakinya yang jenjang, sedang payudaranya cukup besar, pinggangnya kecil namun mempunyai pinggul yang agak besar, hingga klop kalau Kak rina itu punya tubuh yang sangat proporsional.
Apalagi Kak Rina memiliki kulit yang kuning langsat, mulus dengan rambut yang ikal mayang, hitam sebahu. Jangankan laki-laki yang bukan muhrim, Aku sendiri sebagai adik kandung Kak Rina begitu terpesona melihat kecantikan dan keindahan tubuhnya.
Sungguh beruntung sekali Yusuf Chong bisa mempersunting Kakakku itu, apalagi kalau dilihat, Yusuf Chong tak terlalu ganteng, bukannya sombong, dibandingkan Aku juga, aku masih lebih ganteng darinya. Dan Akupun sedikit tak mengerti, dari sudut mana Kak Rina bisa tertarik oleh Yusuf Chong itu. Tapi itulah, mungkin ini sudah jodoh Kak Rina saja.

Setelah beberapa menit mereka bercengkrama seperti itu, tiba-tiba kulihat Kak Rina menarik handuk yang dililitkan pada pinggang Yusuf Chong. Setelah handuk itu terlepas, kulihat batang kemaluan Yusuf Chong telah menegang. Batang kemaluan yang berwarna kecoklatan itu tak terlalu besar dan tak terlalu panjang, mungkin kalau disamakan, batang Yusuf Chong itu kurang lebih sebesar milikku yang juga saat itu mulai berdiri terangsang. Namun dari bentuknya, batang kemaluan Yusuf Chong agak berbeda dari batang kemaluan milikku. Dimana aku agak heran kalau batang milikku agak bengkok kekiri sedang punya Yusuf Chong lurus seperti biasa.
Kak Rina mulai mengusap dan membelai-belai batang Yusuf Chong itu yang membuat batang itu semakin menegang dan semakin memanjang.

Lalu kepala kemaluan Yusuf Chong dielus oleh telapak tangan Kak Rina, sambil tak lupa Kak Rina membuka kulup kemaluan itu. Dimana kemaluan Yusuf Chong belum disunat saat itu.
Ujungnya yang lembab diraba-raba dengan jari telunjuk Kak Rina. Kemudian Kak Rina menjilati jarinya itu seperti begitu nikmat sekali.
kegagahan batang kulup orisinil abang iparku..
Aku merasa agak heran melihat perbuatan yang dilakukan oleh kak Rina seperti itu.
Lalu Aku mulai membuka retsleting celana yang kupakai sambil kulihat batang kemaluanku sudah semakin menegang kencang.
Kak Rina menggenggam erat batang kemaluan Kakak iparku itu yang kulihat masih berkulup karena ia tak berhitan dan kelihatan batangnya itu agak berdenyut-denyut ketika tangan kanan Kak Rina memegangnya.
Digerak-gerakkannya tangan Kak Rina naik turun yang menyebabkan ujung kepala kemaluan Yusuf Chong ikut tertutup dan terbuka dalam kulit kulupnya yang melingkar disitu. Lama sekali tangan Kak Rina menggosok-gosok disana seakan tangan Kak Rina sedang mengonani batang kemaluan Abang Iparku itu. Abang Iparku terlihat menggelinjang-gelinjang kenikmatan.

"Rina suka sekali lihat batang punya kamu ini, kepalanya sebentar ada sebentar hilang. Aku juga heran kenapa banyak pria yang suka membuang penutup ini. Rina suka sekali melihat kemaluan lelaki yang tak bersunat seperti ini, kesannya asli dan originil…., bagaikan seorang lelaki sejati…,”

Kudengar Kak Rina berkata setengah membisik kearah telinga Yusuf Chong yang sedang terpejam-pejam kenikmatan itu.
Aku semakin heran pula mendengar bisikan Kak rina seperti itu, padahal dalam keseharian Kak Rina begitu kalem, jauh dari apa yang kulihat sekarang.
Apalagi kak rina didepan mataku termasuk seorang perempuan yang begitu sopan, lemah lembut dan tenang, pakaiannya juga tak pernah lepas dari pakaian seorang muslimah. Makanya Aku begitu heran dan tak percaya Kak Rina mampu berbuat seperti apa yang sedang kuintip ini.

"Betulkah kamu suka punyaku ini….?,”
Betul, Aku nggak bohong….!,” jawab Kakakku cepat.
Aku pernah lihat batang kemaluan adikku sewaktu dia habis disunat. Nampak punyanya sangat lucu sekali, seperti sebuah keris yang kehilangan sarungnya, senantiasa terhunus walau tak digunakan….,” katanya lagi yang membuat aku sedikit kaget mendengar kata-kata Kakakku itu.

Saat itu Aku begitu yakin kalau ucapan kak Rina itu tertuju kepadaku, karena Akulah satu-satunya adik Kak Rina. Dadaku seakan terbakar karena marah padanya yang telah sedikit mengejekku, namun Aku mampu menahan karena aku tak sabar ingin segera melihat adegan mereka seterusnya.
Puas meraba dan meramas batang kemaluan yang ujungnya semakin memerah itu, Kak Rina kulihat segera mengarahkan wajahnya kedekat paha Yusuf Chong. Lalu ujung kepala penis yang semakin merah itu mulai dijilat dan dielus-elus oleh ujung lidahnya yang basah itu.
Tak lama kemudian batang kemaluan itu sudah dikulum oleh mulut Kak Rina. Kulihat Kak R ina menghisap lembut batang kemaluan suaminya yang masih berkulup itu. Kak Rina menggerakkan naik-turun kembali mulutnya pada batang yang kelihatan semakin tegang itu.
Hisapan dan kuluman Kak Rina yang cantik itu memang sangat profesional sekali. Aku tak tahu sejak kapan dan dimana Kak Rina belajar tentang hal itu. Tak kusangka sedikitpun, Kak Rina yang begitu lembut dan feminin bisa begitu hangat dan lincah bermain diatas ranjangan.
Selama ini Aku ternyata salah duga atas dirinya yang kusangka dia tak tahu apa-apa tentang sex.
Lama sekali Kak Rina membelai, mengusap, menjilat dan mengulum batang keras Yusuf Chong. Yusuf Chong tentunya semakin kenikmatan. Hingga akhirnya Kak Rina mengangkat mukanya.
Batang yang semakin kuat itu seperti mengeras kaku tepat didepan mulut Kak Rina. Kulihat lidah Kak R ina berlendir yang sebagian mulai meleleh dan menetes pada kasur yang cepat dilap oleh tangan Kak Rina. Lendir itu kemungkinan akibat batang kemaluan suaminya yang mulai menetes keluar bercampur dengan air liur Kak Rina.
Kalau saja bukan mata kepalaku sendiri yang melihatnya, dapat dipastikan kalau Aku tak akan percaya kalau Kak Rina mampu menghisap dan merangsang batang milik seorang pria.
Nafsu birahi Yusuf Chong sudah semakin membuncah yang membuat ia mulai melakukan tindakan balasan.

Yusuf Chong memeluk erat tubuh Kak Rina, pipi Kak Rina dicium penuh mesra, senyuman yang begitu menggairahkan tersungging di sudut bibir yang basah milik Kak Rina saat itu.
Tubuh Kak Rina mulai mengeliat kegelian disaat bibir Yusuf Chong menjalar kearah leher jenjangnya. Begitu pula tangan Yusuf Chong tak mau ketinggalan untuk ikut beraksi. Gunung kembar Kak Rina yang masih terbungkus itu mulai diremas-remasnya begitu lembut. Dipijit-pijitnya daging kenyal tersebut silih berganti yang kiri dan yang kanan. Tubuh Kak Rina semakin menggelinjang-gelinjang, dadanya ikut terangkat-angkat saat buah dadanya yang montok itu digesek-gesek oleh jari jemari Yusuf Chong.

Tiba-tiba Kak Rina membalikkan badannya hingga posisi tubuhnya sudah terbaring di kasur itu.
Dengan cepat Yusuf Chong membuka dan meloloskan satu persatu kancing-kancing baju Kak Rina sekalian pengait Bh-nya. Dan tak lama kemudian tubuh Kak Rina sudah mulai polos dibagian belakangnya.
Secepat kilat pula Kak Rina membalikkan tubuhnya hingga terlentang menghadap pada Yusuf Chong yang ada diatas tubuhnya.
Tangan Yusuf Chong mulai menjalar ke gunung kembar kepunyaan Kak Rina. Daging kenyal yang nampak masih sekali itu diremas-remasnya dengan begitu lembut dan pelan silih berganti yang kiri dan yang kanan yang membuat Kak Rina mulai mengerang-ngerang kenikmatan. Mata Kak Rina mulai terpejam-pejam seakan menikmati remasan demi remasan tangan Yusuf Chong pada buah dadanya itu.

Melihat Kak Rina yang mulai terangsang seperti itu, Yusuf Chong segera mengarahkan lidahnya pada pentil susu Kak Rina yang kulihat mulai menegang kencang. Puting susu yang kemerahan itu dihisap-hisapnya dengan segenap perasaan. Putting susu itupun sudah menghilang kedalam mulut Yusuf Chong yang semakin lama semakin ganas hingga rengekan, desahan serta erangan demi erangan dari bibir Kak Rina semakin keras terdengar.
Mendengar suara erangan dan rengekan Kak Rina yang semakin kuat membuat Yusuf Chong semakin liar mencumbu tubuh Kakakku itu.

Setelah itu dengan sebelah tangannya kulihat Yusuf Chong langsung menarik lepas celana dalam yang Kak Rina kenakan. Kak Rinapun membantu dengan mengangkat sedikit pinggulnya hingga celana dalam warna merah itupun dengan mudah terlepas dari kedua kakinya.
Celana yang sudah nampak basah dibagian bawahnya itu sebentar dicium dan dihirup oleh hidung Yusuf Chong sebelum ia lemparkan ke lantai kamar itu..
Sejenak kulihat celana dalam yang ia lemparkan itu sudah benar-benar basah sekali.
Aku begitu terpesona melihat kemolekan tubuh Kakakku yang saat itu sudah benar-benar tanpa sehelai benangpun. Buah dadanya yang nampak sekal, menggelantung indah sekali dengan putting susunya yang sudah menegang kencang. Saat itu Akupun begitu gemas melihatnya. Ingin sekali Aku mencium dan menghisapnya, kalau saja saat itu Aku yang jadi Yusuf Chong.

Kulihat pinggang milik Kak Rina begitu ramping dan perhatianku tertumpu pada gundukan kecil yang ada di selangkannya yang sudah dicukur rapi. Putih sekali gundukan kecil milik kak Rina itu dan begitu menggemaskan.
Bibir vaginanya sedikit terbuka yang menampakkan bagian dalamnya yang merah seperti kelopak bunga. Dan kulihat kelopak itu semakin mengkilat dan basah karena mungkin Kak Rina sudah begitu terangsang sekali.
Kulihat pula di sudut atas belahan vaginanya menyembul tonjolan daging sebesar kelereng yang juga mengkilat dan berwarna kemerahan.
Pemandangan yang terpampang indah dihadapan mata seperti itu membuat Yusuf Chong sudah tak mampu lagi menahan hasrat birahinya.

Secara spontan pula Yusuf Chong segera mengarahkan mukanya kembali kebelahan vagina milik Kak Rina. Tampak Yusuf Chong menciumi bibir vagina Kak Rina sambil digigit-gigitnya secera lembut yang membuat Kak Rina kembali mengerang serat merintih-rintih penuh kenikmatan. Dan Yusuf Chong semakin liar serta lidahnya semakin leluasa menghisap-hisap belahan vagina Kak Rina yang semakin basah berair itu.
Lalu tak seberapa lama kemudian, lidah Yusuf Chong telah sampai pada kelentit Kak Rina. Lidah itu segera menari-nari dan menggesek-geseknya hingga Kak Rina semakin histeris menjerit serta mengerang-ngerang kenikmatan. Jilatan Yusuf Chong semakin kuat pada kelentit Kak Rina itu tak peduli lagi terhadap Kak Rina yang semakin menjerit dan merintih-rintih serta tubuhnya yang semakin menggelinjang-gelinjang hebat.

Kalau saja perbuatan ini dilakukan di rumah orang tuaku, dapat dipastikan mereka juga bisa mendengar suara erangan dan rintihan mereka itu.
Kedua insan berlainan jenis kelamin itu sudah dikuasai nafsu. Sepertinya mereka berdua sudah tak memperdulikan lagi apa yang ada disekelilingnya. Mereka nampak begitu menikmati dan menghayati setiap rangsangan yang mereka lakukan.

Akupun yang asyik mengintip mereka berdua, mulai pula tak mampu menahan hasratku itu. Batang kemaluanku sudah begitu tegang mengencang dibalik celana yang kukenakan.
Dengan pelan tanganku membuka pegangan pintu, dan kebetulan pintu kamar itu tak terkunci dari dalam hingga dengan mudah Aku dapat membukanya.
Setelah pintu terbuka, Aku segera meraih celana dalam Kak Rina yang ada di lantai persis dekat pintu. Aku membiarkan pintu sedikit renggang supaya Aku dapat melihat jelas adegan yang ada dihadapanku.

"Fuck me.... fuck me,,,,."

Suara itu terdengar sangat jelas sekali, saat itu Kak Rina seperti sudah tak ada perasaan malu lagi. Kak Rina sudah dikuasai nafsu birahinya.
Aku pun sama telah dikuasai nafsuku sendiri. Maka celana dalam Kak Rina Aku cium. Dan baru kali ini Aku mencium aroma vagina perempuan walau secara tidak langsung. Aromanya itu mampu membangkitkan gairah syahwatku. Aku hirup celana dalam itu kuat-kuat sambil membayangkan vagina Kak Rina.
Saat itu kulihat kedua tangan Yusuf Chong yang kekar sedang memegang badan Kak Rina yang tidur telentang. Tubuh Kak Rina yang kecil molek itu lalu dibalikkan oleh Yusuf Chong hingga sekejap tubuh mungil Kak Rina sudah tengkurap. Lalu Yusuf Chong mengangkat pinggang Kak Rina dengan lembut dan pelan-pelan.

Kak Rinapun seperti tahu apa yang diinginkan oleh suaminya itu. Dia segera merangkak dan menungging diatas kasur itu. Begitu pula Yusuf Chong, dia segera berlutut tepat dibelakang pinggul Kak Rina yang montok itu.
Dapat kulihat dengan jelas kalau kemaluan Yusuf Chong yang tegak dan kencang itu mulai merapat pada pinggul Kak Rina.
Nafsu syahwatku semakin menggelegak tatkala kulihat vagina Kak Rina sudah nampak lembab dan basah mengkilat indah. Bibir vaginanya sedikit terbuka berwarna merah seakan menanti untuk segera ditusuk oleh batang kemaluan suaminya yang sudah kian keras dan tegak itu. Kak Rina sudah begitu pasrah, kepalanya merapat ke kasur dan matanya mulai terpejam, payudaranya tergantung indah dengan pinggangnya sedikit terangkat. Tubuh Kak Rina begitu indah merangsang dengan kedua pahanya yang indah serta pinggulnya yang montok, menungging begitu erotis.

Pelan-pelan Yusuf Chong merapatkan penis miliknya yang sudah berlendir tepat kegerbang kenikmatan kakakku itu. Lalu kulihat Yusuf Chong mulai menekankan kemaluannya kecelah sempit yang kian basah itu.
Sedikit demi sedikit kemaluan Yusuf Chong mulai mendesak masuk pada celah kemaluan Kak Rina. Dan saat kemaluan itu mulai tertekan semakin dalam, erangan, rintihan dan desahan demi desahan dari bibir Kak Rina mulai terdengar semakin jelas.
Kemaluan Yusuf Chong semakin lama semakin terbenam kedalam liang senggama kakakku yang semakin histeris merintih-rintih.
Sejenak Yusuf Chong menghentikan gerakan kontolnya itu saat erangan Kak Rina semakin keras. Namun sekarang gantian tubuh Kak Rina ikut mendesak dengan memundur majukan tubuhnya hingga kemaluan Yusuf Chong nampak keluar masuk didalam liang senggamanya.
Tak berapa lama Yusuf Chong kembali menusuk-nusukkan kemalunnya semakin dalam hingga akhirnya batang kemaluan miliknya sudah benar-benar hilang ditelan gua kenikmatan kakakku itu.

Aku tertegun sejenak saat kulihat pemandangan yang begitu merangsang dihadapanku. Inilah pertama kalinya dalam seumur hidupku, Aku melihat secara langsung adegan persetubuhan.
Tanpa sadar pula kemaluanku sudah kian mengencang dibalik celanaku itu. Maka segera Aku raih kemaluanku itu lalu Aku mulai menggosok-gosokan tanganku pada kemaluanku. Semakin lama tanganku semakin terasa nikmat hingga batangku segara kukocok dengan sebelah tanganku maju mundur.
Sungguh nikmat rasanya saat itu dimana mataku tertuju pada batang kemaluan Yusuf Chong yang sedang menusuk-nusuk lubang memek kak Rina, sementara tanganku semakin kuat maju mundur pada kemaluanku.

Erangan Kak Rina semakin terdengar kuat, goyangan pinggulnya semakin cepat hingga kemaluan Yusuf Chong seakan dipelintirnya.
Tak berapa lama kulihat tubuh Kak Rina mulai mengejang dan kepalanya semakin ia tekan pada kasur itu dan disusul oleh suara pekikan kenikmatan yang begitu erotis dan panjang.

“Arrghhh...ooohhhh....aaahhhhh....sssshhhppphhh….,”

Tak berapa lama kulihat kemaluan Yusuf Chong saat tertarik keluar seperti diselimuti oleh lendir-lendir berwarna putih dan liang senggama Kak Rina sudah kian basah.
Aku lihat Yusuf Chong juga dah tak tahan lagi, gerakannya semakin cepat. Yusuf Chong merapatkan badannya ke punggung Kak Rina dan seluruh kemaluannya nampak terbenam. Badannya kulihat langsung mengejang dan dari bibirnya keluar suara ohhhh..ahhh...
Aku rasa saat itu Yusuf Chong sedang memuntahkan spermanya kedalam lubang rahim kakakku. Dan tak lama pula dia dan Kak Rina terlihat terkulai lemas sambil saling berpelukan mesra sekali.

Dan secara hampir bersamaan pula dari lubang penisku langsung pula memuncrat cairan spermaku. Celanaku langsung basah tepat didepannya, lututku terasa begitu lemah dan lunglai. Namun kenikmatan saat itu begitu membuatku seakan melayang-layang.